Wednesday, February 14, 2007

Ketika Infotainment Menggiring Opini

Selain sinetron, acara-acara infotainment menjadi alasan utama mengapa publik begitu menggemari layar gelas kita dewasa ini. Karena voyeurisme alias kegemaran mengintip sudah mendarah daging dengan “DNA” kita, maka mendapatkan kesempatan untuk mengintip kehidupan pribadi para selebritas adalah juga sesuatu yang menyenangkan.
Terlebih bila yang “boleh” diintai adalah borok, kekurangan, kasus, dan permasalahan private mereka, maka makin senanglah kita. Dari situ kita bisa memuaskan nafsu paling primitif kita, yaitu terhibur oleh kesengsaraan orang lain. Yang sedikit agak religius melakoninya sambil bersyukur bahwa “setidaknya saya tidak seperti mereka”!
Maka bisa menyaksikan Cliff Sangra menembak menantunya sendiri, Gusti Randa bertikai dengan Nia Paramitha gara-gara “Mr X”, atau Revaldo jadi pesakitan di kantor polisi, tiba-tiba memberi makna baru pada kata “entertainment”. Nilai hiburan yang terkandung di dalamnya jauh lebih besar daripada hal yang sama saat kita menerima gaji bulanan!
Tak heran semua stasiun televisi (terutama yang swasta) dipenuhi dengan aneka macam judul infotainment. Ada Cek & Ricek yang melegenda itu, ada Kroscek, ada Insert, ada Kabar-kabari, ada KiSS, ada Go Show, dan kanal-kanal TV daerah pun berlomba-lomba memproduksi acara infotainment masing-masing.
Sayang, sebagaimana acara-acara lain yang baru lahir setelah diinspirasi acara serupa produksi mancanegara (biasanya Amerika Serikat), program-program infotainment kita pun mengalami masalah yang sama: monoton, tanpa variasi, tidak original, dan miskin (bahkan boleh dibilang sama sekali tidak ada) inovasi yang segar dan baru.
Tengok saja. Meski beda-beda dalam penamaan, struktur semua acara tersebut sangat sama dan sebangun. Umumnya hanya berupa deretan hard news dengan narasi dan rekaman video yang diperkuat dengan satu-dua wawancara singkat. Trans TV mencoba melakukan terobosan dengan menggelar indepth dan bahkan investigative reporting lewat Insert Investigasi, namun belum begitu berhasil karena hanya cenderung memperpanjang durasi berita, dan bukannya kedalaman ulasan.
Di AS, sajian infotainment telah sedemikian maju pesat sehingga yang dihadirkan ke hadapan pemirsa tak hanya melulu rangkaian berita dan gosip-gosip tak jelas dari kalangan pesohor. Tayangan-tayangan tersebut dikemas dalam banyak format berbeda dan tentu dengan tema dan angle permasalahan yang bervariasi pula.
Bahkan telah muncul pula satu kanal televisi yang 24 jam hanya berisi infotainment, yaitu E! Entertainment Television atau yang biasa disebut dengan E! saja. Kanal ini mengudara secara internasional melalui satelit dan dapat disaksikan lewat jaringan TV kabel.
E! berhasil menyuguhkan programa-programa infotainment yang tidak saja menghibur, namun juga lucu, menggemaskan, dan cerdas. Salah satu mata acara yang paling digemari pemirsanya adalah The 101. Dalam acara ini, para editor E! menghitung mundur (countdown) sebanyak 101 peringkat berbagai aspek khusus dari belantara dunia showbiz.
Salah satu topik paling menarik adalah saat The 101 menyoroti perubahan-perubahan apa saja yang terjadi dalam diri para selebritas dalam The 101 Most Starlicious Makeover. Di sini hadir 101 perubahan paling mencengangkan yang dialami para pesohor Hollywood dan dunia rekaman AS, salah satunya adalah metamorfosa Clay Aiken dari pemuda pemalu menjadi bintang tampan setelah memenangi juara kedua American Idol.
Programa ini juga pernah tampil dengan judul The 101 Biggest Celebrity Oops..!, yang menampilkan kesalahan, kekeliruan, dan kekonyolan apa saja yang pernah dialami para selebritas. Hadir di sini antara lain adalah keputusan ganjil Sony Pictures untuk menciptakan seorang kritikus film gadungan yang selalu memberi ulasan-ulasan positif untuk film-film terburuk mereka.
Ada pula kisah aktor Woody Harrelson yang membuka bisnis aneh berupa bar alias kedai oksigen, juga Leonardo DiCaprio yang persis setelah sukses gila-gilaan lewat Titanic justru melakukan kesalahan fatal dengan menerima tawaran untuk bermain dalam The Beach yang gagal total dan sama sekali tidak laku!
The 101 ditayangkan secara bersambung dalam lima episode dengan tiap episode rata-rata memuat 20 peringkat. Jam-jam tayang keseluruh episode itu diacak, sehingga bila pemirsa penasaran ingin mengetahui kelanjutannya, mereka harus terus tune in di E! dan tidak boleh berpindah ke saluran lain agar tidak ketinggalan satu episode pun.
Format infotainment lain hadir dalam E! True Hollywood Story (THS), tempat pemirsa bisa mengikuti biografi seorang pesohor Hollywood lengkap dengan suka duka, etos kerja, dan resep-resep keberhasilan mereka dalam meniti karier. Acara lain yang tak kalah menarik adalah Taradise, yang berisi liputan perjalanan aktris Tara Reid ke berbagai tempat paling eksotis di muka Bumi.
Namun kelebihan tayangan-tayangan infotainment E! dan yang sama sekali belum terdapat di sini adalah kelengkapan coverage-nya. Setiap masalah dilihat dari banyak sudut pandang berbeda dengan cara menampilkan sebanyak mungkin narasumber netral.
Netralitas para narasumber itu sangat bisa dipertanggung jawabkan karena mereka adalah para editor papan atas media-media hiburan terkemuka dan pakar-pakar terkait. Tugas mereka memberikan analisa secara kritis dan objektif terhadap topik apapun yang tengah dibahas, dan bukan hanya sekadar menghadirkan pendapat atau komentar pribadi yang subjektif dan memihak.
Unsur ini belum tersentuh infotainment-infotainment kita, karena tak jarang narator acara justru menggiring pemirsa menuju kutub opini dan penilaian tertentu. Dalam kasus narkoba aktor senior Roy Marten, tampak jelas Roy di-“kasting” sebagai sosok hero dan bapak sejati oleh berbagai acara infotainment.
Sedang dalam kasus Revaldo, trial by the press sudah terjadi sejak pertama kali beritanya tersiar. Tidak ada upaya untuk menyebut nama Revaldo dengan inisial, mengaburkan wajahnya, dan melindungi jatidirinya sampai sidang pengadilan menjatuhkan vonis.
Sebaliknya, bahwa yang tertangkap basah adalah seorang Revaldo, nama populer itu justru di-blow up semaksimal mungkin untuk menarik perhatian pemirsa. Seluruh infotainment pun telah melakukan pelanggaran serius terhadap salah satu poin Kode Etik Jurnalistik tentang asas praduga tak bersalah.
Tetapi bagaimanapun, kondisi yang memprihatinkan itu memang sangat bisa dipahami. Sebab, sebagaimana pernyataan banyak kalangan pers, infotainment kita sejak awal memang tidak pernah menjadi bagian dari dunia jurnalistik.

Cukup Hanya Wajah Manis

Pada tahun 1970-an dan 1980-an, ketika satu-satunya kanal televisi yang eksis di Indonesia hanya TVRI, nama Ani Sumadi begitu akrab bagi pemirsa. Tokoh satu ini dikenal sebagai Ibu Segala Kuis. Semua acara kuis yang tayang di TVRI lahir dari tangan dinginnya.
Kuis-kuis besutan Ani Sumadi yang paling legendaris dan tetap hidup hingga pergantian millenium tentu adalah Berpacu dalam Melodi. Terakhir, programa ini tayang di Metro TV dengan host yang sama, yaitu Koes Hendratmo, dan menyajikan format pertunjukan yang sama persis dengan sewaktu masih menginduk di TVRI dahulu kala.
Ketika keran keterbukaan informasi dibuka dan satu demi satu stasiun TV swasta bermunculan, ketahuan bahwa kuis-kuis populer era TVRI hanya saduran belaka dari kuis-kuis Amerika Serikat. Berpacu dalam Melodi, misalnya, adalah adaptasi dari Name That Tune yang mengudara di AS sejak dekade 1950-an hingga tahun 1985.
Dewasa ini, tidak seperti 20 tahunan yang lalu, pentas layar gelas kita tengah sepi dari hiruk pikuk acara kuis. Selain (selalu) kalah dari kehirukpikukan sinetron bernuansa mistis-religius, genre kuis di Indonesia sejak dulu selalu menghadapi masalah yang sama, yaitu originalitas.
Hingga kini, bisa dibilang belum ada satupun produk acara kuis (dan dalam konteks yang lebih luas lagi, tayangan permainan alias game show) yang merupakan produk asli Indonesia dengan format, konteks, dan content yang juga 100% asli Indonesia. Kuis-kuis seperti Siapa Berani atau Kocok-kocok mungkin memang tidak mengadopsi kuis luar negeri, namun isi kandungannya sama sekali tidak baru dan pernah dipergunakan di suatu tempat.
Terobosan baru yang original dan kreatif nyaris belum pernah terjadi. Padahal di Amerika, inovasi adalah kata kunci untuk mencegah pemirsa dari rasa bosan serta untuk saling berkompetisi antarstasiun TV. Di sana, format-format baru terus-menerus bermunculan dan tak jarang melahirkan baik pengekor maupun spinoff (sempalan).
Yang lebih menarik lagi, kekhasan format itu sekaligus juga menjadi trade mark masing-masing tayangan kuis. Ambil contoh Wheel of Fortune. Kuis ini melegenda karena kreativitas para penciptanya untuk menggabungkan roda rolet berisi hadiah dengan permainan tebak kalimat.
Ada pula Jeopardy!. Kuis yang tayang antara tahun 1964 hingga 1975 dan mengudara kembali sejak 1984 hingga sekarang itu amat menarik karena menyajikan sesuatu yang sangat langka. Bukannya disuruh menebak jawaban, kontestan justru ditugaskan untuk membuat pertanyaan dari sebuah jawaban.
Programa permainan lain yang tak kalah menarik adalah Supermarket Sweep. Dalam tayangan ini, para peserta diperbolehkan untuk menguras isi supermarket yang menjadi sponsor. Tidak saja barang-barang itu digratiskan dan boleh dibawa pulang, peserta yang mencatat jumlah pembelian termahal akan keluar sebagai pemenang dan memperoleh sederetan hadiah yang menggiurkan.
Inovasi dan daya tarik bisa pula muncul dari jumlah hadiah yang ditawarkan. Salah satu kuis terpopuler yang mempunyai format kuno dan boleh dibilang membosankan tapi menjadi sangat menarik karena besar hadiah yang dijadikan iming-iming adalah Who Wants to be a Millionaire? (WWTBAM?).
Format tayangan tersebut sesungguhnya amat membosankan, karena diikuti oleh satu orang peserta saja yang sepanjang tayangan berlangsung hanya perlu memilih satu di antara empat poin pilihan ganda (mirip ulangan umum di sekolah!) untuk 15 nomor pertanyaan.
Yang membuatnya menjadi sebuah programa yang menggoda penuh ketegangan adalah jumlah hadiahnya. Untuk tiap butir pertanyaan disediakan hadiah uang cash yang terus-menerus meningkat dan akhirnya berpuncak pada hadiah utama senilai $ 1 juta (sekitar Rp 9 miliar dengan kurs saat ini). Hadiah ini bisa dibawa pulang jika kontestan berhasil menjawab pertanyaan terakhir alias pertanyaan ke-15.
Banyak yang mengira WWTBAM? adalah kuis asli buatan AS. Padahal, sebagaimana American Idol, tayangan yang dibawakan oleh pemandu acara legendaris Regis Philbin itu berasal dari Inggris dengan judul asli Cash Mountain. Di sana, acara tersebut dipandu broadcaster kenamaan Chris Tarrant.
Diciptakan bersama-sama oleh David Briggs, Steve Knight, dan Mike Whitehill, Cash Mountain tadinya adalah acara kuis di Radio Capital FM yang kemudian berekspansi ke layar TV. Ketika hadir perdana pada tanggal 4 September 1998, acara ini mendadak langsung menghadirkan histeria massa meski awalnya hanya dirancang sebagai sebuah programa permainan kecil-kecilan.
Popularitas menghebohkan Cash Mountain dengan cepat langsung diimpor ke AS. Dan sebagaimana Pop Idol berubah jadi American Idol, para kreator TV di Amerika pun tak rela kalau mereka hanya sekadar mengadopsi mentah-mentah. Paling tidak judul acara harus diganti total agar kelak publik “salah mengidentifikasi” kuis tersebut sebagai produk asli negeri Paman Sam.
Nama Cash Mountain pun diubah menjadi Who Wants to be a Millionaire?. Meski namanya panjang dan agak susah dilafalkan, tayangan tersebut mendunia dan kemudian memang lebih dikenal sebagai “made in USA”. Ironisnya, nama tersebut merupakan bagian dari lirik sebuah lagu dari tahun 1956 milik musisi jazz legendaris Cole Porter yang bertutur tentang kesadaran hati untuk lebih mengutamakan cinta sejati ketimbang hanya sekadar uang dan harta benda!
Sejak pertama kali tayang tahun 1999, WWTBAM? seketika menjadi hit dan ditayangkan di 100 negara di seluruh dunia bukan dalam bentuk tayangan ulang melainkan dalam format franchise. Artinya, tiap negara hanya perlu membeli hak tayangnya dan kemudian memproduksinya sendiri dengan variasi-variasi kecil pada perubahan nama atau jumlah hadiahnya.
Daya tarik pada besar jumlah hadiah tersebut tak jarang memunculkan juga “variasi” lain yang unik pada beberapa negara tertentu. Di Kolombia, identitas pemenang acara Quien Quiere Ser Millonario dirahasiakan dengan ketat. Seorang warga biasa yang keluar dari studio sambil menenteng kopor berisi uang ratusan juta peso pasti akan langsung jadi sasaran empuk entah pembunuhan entah itu penculikan di negara yang memang nyaris tak pernah aman tenteram itu!
Terobosan untuk menelurkan format baru, elemen-elemen baru, dan daya tarik yang juga fresh inilah yang belum banyak digali di sini. Para kreator kuis kita seperti mengalami “hambatan psikologis” untuk menggali imajinasi, melakukan riset, atau mengeksplotasi iptek guna melahirkan satu bentuk acara kuis yang benar-benar anyar dan original dalam seluruh aspeknya.
Alih-alih, daripada mengerjakan semua proses kreatif itu, stasiun-stasiun TV Indonesia lebih suka mengambil jalan aman dengan cukup hanya memajang wajah-wajah manis Deasy Novianti, Donna Agnesia, atau Dewi Rezer untuk memandu kuis-kuis sederhana berdurasi tak sampai 5 menit yang hanya sekadar diselipkan di sela-sela tayangan olah raga…

Sunday, February 11, 2007

Bukan Hanya Obrolan Sesama Seleb

Selain sinetron dan reality show, talk show alias acara obrolan saat ini menjadi primadona siaran televisi di Indonesia. Berbagai stasiun TV mengedepankan acara obrolan andalan masing-masing, seperti Indosiar dengan Oprah, Trans TV dengan Lepas Malam dan Ceriwis, serta RCTI dengan Bincang Bintang.
Terlepas dari pengaruh talk show buatan Amerika Serikat yang kini menjadi panduan dan anutan, embrio acara obrolan di Indonesia sebenarnya sudah muncul sejak lama. Sekitar dua atau tiga dekade lalu, ketika televisi kita masih menganut “asas tunggal” TVRI, pemirsa telah disuguhi berbagai macam programa obrolan yang beragam.
Pada era 1970-an dan 1980-an, kita mengenal judul-judul semacam Mimbar Televisi, Masalah Kita, atau Kami Ketengahkan. Sayang, keragaman itu hanya ada dalam judul namun bukan dalam kemasan acara. Dari berbagai programa berbeda, semua ditampilkan dengan cara dan “tradisi” yang sama.
Tiga atau empat orang pejabat dihadirkan oleh seorang pembawa acara dalam set dekor ruang tamu yang kaku. Gaya obrolan mereka pun sangat serius dan formal, dengan alur pembicaraan hanya berupa tanya-jawab secara bergiliran, bukannya sebuah diskusi atau perdebatan yang hangat dan menarik.
Selain itu, acara-acara talk show era Orde Baru itu tak pernah menyentuh suatu permasalahan yang betul-betul mendasar. Topik-topik yang dihadirkan melulu berupa penerangan program pemerintah seperti intensifikasi pertanian, transmigrasi, keluarga berencana, P-4, atau posyandu.
Memasuki era keragaman TV swasta, programa-programa talk show mulai berbenah untuk mencari perolehan rating (dan tentunya slot iklan!). Kemasannya pun menjadi lebih variatif, segar, penuh diskusi serta perdebatan, dan bahkan interaktif. Para pemirsa bisa langsung bertanya pada narasumber secara langsung via telepon atau SMS.
Kini, acara obrolan seperti Lepas Malam atau Ceriwis telah menjadi primadona yang ditunggu-tunggu pemirsa. Sayang judul-judul tersebut disukai hanya karena lucu dan penuh bertabur bintang, namun kurang menggugah, kurang inspiratif, dan tidak memberikan nilai plus kepada pemirsa baik berupa tambahan pengetahuan baru maupun wawasan baru dalam memandang hidup secara keseluruhan.
Padahal programa-programa serupa di AS tidak hanya kocak dan penuh bintang, namun juga selalu menyajikan topik-topik yang besar, berat, berefek luas, dan meskipun sepele, tapi topik itu selalu membawa pemirsa kepada pemahaman baru atau betul-betul menggerakkan mereka untuk melakukan sesuatu yang mulia.
Ambil contoh Oprah. “Ibu dari semua acara talk show” ini bahkan tak jarang membuka mata pemirsa terhadap hal-hal luar biasa yang terjadi nun jauh di ujung dunia. Melalui reportase koresponden kenamaan Lisa Ling, Oprah menguak permasalahan mahar di India yang membuat kaum wanita menjadi komoditas dagang atau kekerasan mengerikan terhadap wanita dalam konflik-konflik berdarah antarsuku di Afrika.
Talk show populer lain yang tak kalah ngetop di sana adalah Martha Stewart Living. Dibawakan oleh salah satu pengusaha tersukses di Amerika, Martha Stewart, acara ini berisi serangkaian tips-tips praktis kepada pemirsa dalam berbagai topik yang sangat beragam, seperti memasak, menata interior rumah, berkebun, atau etiket pergaulan secara umum.
Dengan tagline “you will always learn something new” (Anda akan selalu mempelajari satu hal baru), tiap episode Martha Stewart Living tak pernah lewat percuma dan selalu meninggalkan jejak yang nyata di benak kaum ibu, pemirsanya. Acara populer ini memulai debutnya bulan September 1993 dan kini ditayangkan secara sindikasi (di lebih dari satu stasiun televisi) setiap hari selama sepekan tiap pukul 16.00 waktu setempat.
Martha Stewart sendiri lahir tanggal 3 Agustus 1941 dari keluarga imigran asal Polandia. Ia menuai sukses sebagai pengusaha katering pada tahun 1976 dan kemudian memulai karier baru sebagai penulis dan kolumnis. Bersama Elizabeth Hawes, ia menelurkan buku berjudul Entertaining yang laris manis bak kacang goreng. Sesudah itu, ia menjadi kontributor tetap untuk Majalah Family Circle sepanjang tahun 1980-an.
Popularitasnya sebagai salah satu icon wanita tersukses di AS mencapai puncaknya ketika ia memulai Martha Stewart Living pada tahun 1993. Kini acara tersebut telah berkembang menjadi sebuah imperium media yang bernama Martha Stewart Living Omnimedia yang meliputi berbagai kanal media massa sekaligus, yaitu media cetak, televisi, radio, internet, serta radio satelit.
Tahun 2005 lalu, Stewart membintangi spinoff (sempalan) acara The Apprentice yang berjudul The Apprentice: Martha Stewart. Sayang acara ini hanya berumur satu musim gara-gara rating rendah akibat jam tayangnya yang berbenturan dengan serial terpopuler di AS saat ini, Lost.
Satu lagi acara obrolan yang mendidik meski temanya agak kontroversial (terutama untuk kita yang kini tengah mengalami “euforia” RUU APP!) adalah Talk Sex with Sue Johanson yang di Amerika ditayangkan tiap Minggu pukul 23.00 selama 60 menit di jaringan TV Oxygen.
Acara ini khusus mengungkap segala pernak-pernik seks. Para pemirsa bertanya langsung tentang seputar permasalahan cinta, hubungan percintaan, dan seks. Semua pertanyaan akan dijawab dengan gamblang dan ilmiah oleh Johanson yang merupakan seorang penulis, pembicara, dan pakar soal seks di Kanada.
Mengawali kariernya sebagai perawat, ia membuka klinik KB pertama di sebuah SMA Amerika Utara pada tahun 1970. Sesudah itu ia menjadi pembawa acara konsultasi seks lewat radio yang berjudul Sex with Sue yang kemudian diganti menjadi Sunday Night Sex Show.
Ketika popularitasnya menjulang, acara konsultasi itu berpindah “rumah” ke televisi. Judulnya tetap Sunday Night Sex Show dan ditayangkan di jaringan TV W Network. Ketika berekspansi ke AS melalui Oxygen Network sejak 3 November 2002, Johanson harus mengganti judul acaranya menjadi Talk Sex with Sue Johanson.
Meski menghadirkan tema yang bagi sebagian orang dianggap tabu, Talk Sex with Sue Johanson digemari karena mengemas topik seks secara ilmiah dan sangat mendidik. Ini mirip dengan kehadiran rubrik populer EducaSex yang dulu sempat menjadi andalan (almarhum) Tabloid Remaja tren, Semarang.
Programa talk show lain, semacam The Ellen DeGeneres Show, tetap tak berkurang kandungan edukasinya meski, sama dengan kebanyakan talk show di sini, dikemas dengan premis “yang penting lucu”. Dalam acara ini, komedian ngetop Ellen DeGeneres mengajak pemirsa dan penonton studio menikmati interviu dengan selebritas, pentas musik live, serta games.
Kelebihan acara ini adalah kemampuannya untuk membuat pemirsa begitu larut ke dalamnya. Salah satu segmennya yang paling menarik adalah What are You Doing While You’re Watching?. Segmen ini men-survey hal-hal apa saja yang kerap dikerjakan pemirsa di rumah sambil menonton acara ini.
Pada akhirnya, acara-acara talk show di AS menjadi berbobot karena tak hanya sekadar menghibur namun juga meninggalkan manfaat yang nyata dan terkadang begitu menggugah. Selain itu tematik dan formatnya pun beragam, tak hanya sekadar menampilkan selebritas mewawancarai sesama selebritas.
Sedang di sini, kita sudah cukup puas hanya dengan setiap hari pukul 12.00 WIB menonton guyonan rame Indy Barends dan Indra Bekti melihat-lihat koleksi foto-foto lawas teman-teman mereka sesama pesohor.

Dari Sweeping Hingga Set Meter

Saat bicara tentang acara-acara berbagai stasiun televisi, kita selalu menyebut pula kata “rating”. Sinetron atau acara kuis tertentu dikatakan memiliki rating tinggi, yang berarti sangat populer karena disaksikan oleh banyak pemirsa. Programa dengan rating tinggi, seperti serial Si Doel Anak Sekolahan, Hidayah, atau reality show AFI, dengan sendirinya akan menarik begitu banyak pemasang iklan untuk antre mengisi slot yang tersedia dengan harga mahal.
Meski diperbincangkan banyak kalangan, mulai akademikus, wartawan, hingga masyarakat awam, namun rating televisi masih merupakan sebuah misteri besar. Bagaimana angka rating tersebut dihitung? Dan dengan cara survey yang seperti apa sehingga satu programa dinyatakan memiliki rating tinggi sedang programa lain harus di-cancel karena mempunyai rating rendah?
Sebagaimana elemen-elemen lain dalam dunia layar gelas, pengukuran rating programa televisi berdasarkan jumlah pemirsa juga dimulai dari negara Paman Sam, Amerika Serikat. Pengukuran ini dikerjakan oleh sebuah perusahaan riset media yang bernama Nielsen Media Research (NMR).
Perhitungan rating yang dilakukan NMR di AS disebut dengan istilah Cume Rating atau Reach. Cume Rating mengukur jumlah pemirsa tertentu secara khusus atau jumlah household (rumah tangga) yang menyaksikan suatu acara TV dalam periode waktu tertentu dalam sepekan.
Cume sendiri dinyatakan dalam persentase, yang didapat dengan membagi jumlah rumah tangga yang menonton acara tersebut dengan estimasi jumlah rumah tangga secara keseluruhan di seantero AS. Penghitungan ini dilakukan dengan perkiraan bahwa satu rumah tangga memiliki satu pesawat TV.
Dengan perhitungan seperti itu, NMR setiap pekan mengeluarkan daftar programa-programa terpopuler yang ditayangkan jaringan-jaringan TV nasional di AS. Daftar ini memiliki kadar keabsahan yang sama tinggi dengan daftar mingguan majalah Billboard (Top 40) untuk dunia musik dan daftar Box Office yang dirilis Exhibitor Relations untuk dunia film.
Lalu acara apa yang di Amerika kini tengah tampil sebagai programa yang paling populer dan paling digemari? Kalau Anda menyebut American Idol, tebakan Anda tepat 100%. Acara reality show dengan format kontes bakat menyanyi yang disadur dari programa asal Inggris, Pop Idol, itu memang tengah mengalami masa keemasaannya justru bukan di negara asalnya sendiri.
Tidak hanya sukses mengangkangi tempat pertama, American Idol juga menduduki tempat kedua sekaligus. Kok bisa? Tak lain karena jaringan TV Fox menayangkan programa ini dua kali dalam sepekan, yaitu tiap Selasa pukul 20.00 waktu setempat dan tiap Rabu pukul 21.00.
American Idol Selasa menguasai peringkat pertama dengan perolehan angka rating 19,2%. Ini berarti acara yang mempopulerkan nama Kelly Clarkson, Ruben Studdard, dan Clay Aiken tersebut disaksikan tak kurang dari 21,1 juta rumah tangga di seluruh AS saat ditayangkan. American Idol Rabu menguntit di tempat kedua dengan rating 15,9% (17,6 juta rumah tangga).
Popularitas luar biasa yang diraih acara itu tak lepas dari keunikan dewan juri yang terdiri atas para pribadi yang amat bertolak belakang. Banyak pengamat menilai, penunjukan Randy Jackson, Paula Abdul, dan Simon Cowell sebagai anggota tetap dewan juri menjadi kunci sukses kecemerlangan American Idol.
Jackson yang kritis dan objektif, Abdul yang lembut dan penuh empati, serta Cowell yang nyinyir dan bermulut pedas adalah kombinasi yang sempurna untuk memberikan pemirsa tontonan ekstra selain penampilan para kontestan sebagai suguhan utama. Ketiganya kadang bahkan terlibat dalam perdebatan sengit menjurus emosional yang membuat acara tersebut memanas dan kian menarik untuk terus diikuti sebagaimana serial opera sabun.
Jika pencapaian ini bisa dipertahankan hingga akhir musim tayang 2005/06 ini, American Idol berarti akan mempertahankan prestasi serupa yang diraih musim 2004/05 lalu. Saat itu, American Idol berhasil mencuat sebagai programa terpopuler menggeser serial CSI: Crime Scene Investigation milik stasiun TV CBS yang keluar sebagai “juara” selama dua musim berturut-turut.
Programa-programa populer lain yang berhasil masuk daftar 10 besar rating NMR adalah serial Desperate Housewives (ABC) di peringkat ketiga dan CSI: Miami (CBS) di tempat keempat. Siaran berita 60 Minutes yang tayang di CBS menduduki peringkat kelima dan menjadi satu-satunya news program yang berhasil menembus dominasi acara-acara hiburan dalam daftar Top Ten.
Serial populer keluaran ABC, Lost, yang tahun ini merebut Golden Globe untuk kategori Serial Drama Terbaik, harus puas berada di tempat kesepuluh dengan perolehan rating 9,7%. Di Indonesia pun, Lost tidak berhasil meraih rating setinggi pendahulunya, Desperate Housewives, yang sama-sama tayang di Indosiar.
NMR sendiri memperoleh angka rating tersebut dengan dua metode. Pertama, mereka mengirimkan catatan aktivitas menonton yang disebut diary kepada pemirsa-pemirsa yang dijadikan responden survey. Dalam diary ini, pemirsa harus menuliskan acara-acara apa saja yang mereka saksikan sepanjang pagi hingga tengah malam.
Sesudah selesai, NMR akan mengumpulkan kembali diary-diary tersebut untuk dikalkulasi. Pengumpulan dilakukan mulai dari Pantai Timur dan di-sweeping secara menyeluruh hingga ke Pantai Barat. Itulah sebabnya metode survey dengan pengiriman dan pengumpulan diary biasa disebut juga dengan istilah Sweep.
Sedang metode kedua adalah menggunakan Set Meter, yaitu sebuah komputer mini yang dipasang di pesawat-pesawat TV tertentu. Set Meter merekam aktivitas televisi termasuk kanal-kanal dan acara-acara apa saja yang ditonton dalam sehari. Secara otomatis, rekaman aktivitas tersebut ditransmisikan rutin tiap malam ke database NMR yang berlokasi di Oldsmar, Florida.
NMR mulai melakukan penghitungan rating sejak tahun 1950. Dalam musim pertamanya, 1950/51, programa yang berhasil tampil sebagai tayangan terpopuler adalah Texaco Star Theater milik NBC. Sedangkan acara yang paling lama meraih angka rating tertinggi adalah serial All in the Family (CBS), mulai musim 1971/72 hingga 1975/76 atau selama lima musim berturut-turut.
Meski menjadi standar patokan utama para pemasang iklan, rating hitungan NMR dikritik karena terlalu berkonsentrasi ke televisi rumah tangga. Pesawat TV di asrama mahasiswa, terminal bus, stasiun KA, kafe, dan tempat-tempat umum lainnya tak masuk hitungan, padahal di tempat-tempat itu pemirsa dalam jumlah besar bisa dikumpulkan dalam “sekali gebrak”.
Salah satu contoh, kafe dan resto-resto di sini ketika nanti Piala Dunia 2006 di Jerman mulai digulirkan…

(Artikel ini dimuat bulan Maret 2006)

Dari Sweeping Hingga Set Meter

Saat bicara tentang acara-acara berbagai stasiun televisi, kita selalu menyebut pula kata “rating”. Sinetron atau acara kuis tertentu dikatakan memiliki rating tinggi, yang berarti sangat populer karena disaksikan oleh banyak pemirsa. Programa dengan rating tinggi, seperti serial Si Doel Anak Sekolahan, Hidayah, atau reality show AFI, dengan sendirinya akan menarik begitu banyak pemasang iklan untuk antre mengisi slot yang tersedia dengan harga mahal.
Meski diperbincangkan banyak kalangan, mulai akademikus, wartawan, hingga masyarakat awam, namun rating televisi masih merupakan sebuah misteri besar. Bagaimana angka rating tersebut dihitung? Dan dengan cara survey yang seperti apa sehingga satu programa dinyatakan memiliki rating tinggi sedang programa lain harus di-cancel karena mempunyai rating rendah?
Sebagaimana elemen-elemen lain dalam dunia layar gelas, pengukuran rating programa televisi berdasarkan jumlah pemirsa juga dimulai dari negara Paman Sam, Amerika Serikat. Pengukuran ini dikerjakan oleh sebuah perusahaan riset media yang bernama Nielsen Media Research (NMR).
Perhitungan rating yang dilakukan NMR di AS disebut dengan istilah Cume Rating atau Reach. Cume Rating mengukur jumlah pemirsa tertentu secara khusus atau jumlah household (rumah tangga) yang menyaksikan suatu acara TV dalam periode waktu tertentu dalam sepekan.
Cume sendiri dinyatakan dalam persentase, yang didapat dengan membagi jumlah rumah tangga yang menonton acara tersebut dengan estimasi jumlah rumah tangga secara keseluruhan di seantero AS. Penghitungan ini dilakukan dengan perkiraan bahwa satu rumah tangga memiliki satu pesawat TV.
Dengan perhitungan seperti itu, NMR setiap pekan mengeluarkan daftar programa-programa terpopuler yang ditayangkan jaringan-jaringan TV nasional di AS. Daftar ini memiliki kadar keabsahan yang sama tinggi dengan daftar mingguan majalah Billboard (Top 40) untuk dunia musik dan daftar Box Office yang dirilis Exhibitor Relations untuk dunia film.
Lalu acara apa yang di Amerika kini tengah tampil sebagai programa yang paling populer dan paling digemari? Kalau Anda menyebut American Idol, tebakan Anda tepat 100%. Acara reality show dengan format kontes bakat menyanyi yang disadur dari programa asal Inggris, Pop Idol, itu memang tengah mengalami masa keemasaannya justru bukan di negara asalnya sendiri.
Tidak hanya sukses mengangkangi tempat pertama, American Idol juga menduduki tempat kedua sekaligus. Kok bisa? Tak lain karena jaringan TV Fox menayangkan programa ini dua kali dalam sepekan, yaitu tiap Selasa pukul 20.00 waktu setempat dan tiap Rabu pukul 21.00.
American Idol Selasa menguasai peringkat pertama dengan perolehan angka rating 19,2%. Ini berarti acara yang mempopulerkan nama Kelly Clarkson, Ruben Studdard, dan Clay Aiken tersebut disaksikan tak kurang dari 21,1 juta rumah tangga di seluruh AS saat ditayangkan. American Idol Rabu menguntit di tempat kedua dengan rating 15,9% (17,6 juta rumah tangga).
Popularitas luar biasa yang diraih acara itu tak lepas dari keunikan dewan juri yang terdiri atas para pribadi yang amat bertolak belakang. Banyak pengamat menilai, penunjukan Randy Jackson, Paula Abdul, dan Simon Cowell sebagai anggota tetap dewan juri menjadi kunci sukses kecemerlangan American Idol.
Jackson yang kritis dan objektif, Abdul yang lembut dan penuh empati, serta Cowell yang nyinyir dan bermulut pedas adalah kombinasi yang sempurna untuk memberikan pemirsa tontonan ekstra selain penampilan para kontestan sebagai suguhan utama. Ketiganya kadang bahkan terlibat dalam perdebatan sengit menjurus emosional yang membuat acara tersebut memanas dan kian menarik untuk terus diikuti sebagaimana serial opera sabun.
Jika pencapaian ini bisa dipertahankan hingga akhir musim tayang 2005/06 ini, American Idol berarti akan mempertahankan prestasi serupa yang diraih musim 2004/05 lalu. Saat itu, American Idol berhasil mencuat sebagai programa terpopuler menggeser serial CSI: Crime Scene Investigation milik stasiun TV CBS yang keluar sebagai “juara” selama dua musim berturut-turut.
Programa-programa populer lain yang berhasil masuk daftar 10 besar rating NMR adalah serial Desperate Housewives (ABC) di peringkat ketiga dan CSI: Miami (CBS) di tempat keempat. Siaran berita 60 Minutes yang tayang di CBS menduduki peringkat kelima dan menjadi satu-satunya news program yang berhasil menembus dominasi acara-acara hiburan dalam daftar Top Ten.
Serial populer keluaran ABC, Lost, yang tahun ini merebut Golden Globe untuk kategori Serial Drama Terbaik, harus puas berada di tempat kesepuluh dengan perolehan rating 9,7%. Di Indonesia pun, Lost tidak berhasil meraih rating setinggi pendahulunya, Desperate Housewives, yang sama-sama tayang di Indosiar.
NMR sendiri memperoleh angka rating tersebut dengan dua metode. Pertama, mereka mengirimkan catatan aktivitas menonton yang disebut diary kepada pemirsa-pemirsa yang dijadikan responden survey. Dalam diary ini, pemirsa harus menuliskan acara-acara apa saja yang mereka saksikan sepanjang pagi hingga tengah malam.
Sesudah selesai, NMR akan mengumpulkan kembali diary-diary tersebut untuk dikalkulasi. Pengumpulan dilakukan mulai dari Pantai Timur dan di-sweeping secara menyeluruh hingga ke Pantai Barat. Itulah sebabnya metode survey dengan pengiriman dan pengumpulan diary biasa disebut juga dengan istilah Sweep.
Sedang metode kedua adalah menggunakan Set Meter, yaitu sebuah komputer mini yang dipasang di pesawat-pesawat TV tertentu. Set Meter merekam aktivitas televisi termasuk kanal-kanal dan acara-acara apa saja yang ditonton dalam sehari. Secara otomatis, rekaman aktivitas tersebut ditransmisikan rutin tiap malam ke database NMR yang berlokasi di Oldsmar, Florida.
NMR mulai melakukan penghitungan rating sejak tahun 1950. Dalam musim pertamanya, 1950/51, programa yang berhasil tampil sebagai tayangan terpopuler adalah Texaco Star Theater milik NBC. Sedangkan acara yang paling lama meraih angka rating tertinggi adalah serial All in the Family (CBS), mulai musim 1971/72 hingga 1975/76 atau selama lima musim berturut-turut.
Meski menjadi standar patokan utama para pemasang iklan, rating hitungan NMR dikritik karena terlalu berkonsentrasi ke televisi rumah tangga. Pesawat TV di asrama mahasiswa, terminal bus, stasiun KA, kafe, dan tempat-tempat umum lainnya tak masuk hitungan, padahal di tempat-tempat itu pemirsa dalam jumlah besar bisa dikumpulkan dalam “sekali gebrak”.
Salah satu contoh, kafe dan resto-resto di sini ketika nanti Piala Dunia 2006 di Jerman mulai digulirkan…

(Artikel ini dimuat bulan Maret 2006)

Wednesday, February 7, 2007

Agar Kita Melek Film

Dalam dunia pertelevisian, Amerika Serikat adalah trendsetter dan “suri tauladan” yang harus ditiru serta diikuti demi kesuksesan, baik dalam reputasi maupun dalam urusan gemerincing uang. Jaringan-jaringan TV di seluruh dunia relatif hanya menunggu apa yang meroket di sana untuk diterapkan secara lokal, dan hanya segelintir yang merupakan kreasi asli buatan sendiri.
Di Indonesia pun, stasiun TV, produser, dan kreator layar kaca cenderung untuk selalu pasif dan hanya siap sedia menjadi “mesin fotokopi” bagi apapun yang menghasilkan rating tinggi di AS. Itu berlaku sejak mulai film seri, acara dokumenter, reality show, variety show, hingga talk show dan kuis.
Namun di antara sederetan jenis acara TV Amerika yang ditiru di sini, tetap ada beberapa programa yang tak juga kunjung disadur meski seharusnya pantas dan bahkan harus secepat mungkin diindonesiakan, atau setidaknya ditayangkan di sini. Salah satunya adalah acara talk show unik yang berjudul Ebert & Roeper.
Disebut unik karena programa ini menampilkan obrolan yang tak dipunyai acara lain sejenis, yaitu kritik film. Dipandu dua kolumnis dari koran Chicago Sun-Times, Roger Ebert dan Richard Roeper, Ebert & Roeper memberikan ulasan dan analisis secara mendalam terhadap film-film terbaru yang dirilis di Amerika, baik produksi Hollywood sendiri maupun film-film berbahasa asing dari negara lain.
Dalam tiap episode yang berdurasi 30 menit, mereka biasanya mengulas antara tiga hingga lima judul film sekaligus. Dengan cita rasa dan penilaian yang objektif namun tajam, Ebert dan Roeper akan memberikan predikat “thumbs up” untuk film-film yang mereka anggap berkualitas dan “thumbs down” untuk film-film yang bermutu seadanya.
Unsur paling menarik dalam talk show ini bukan hanya mengetahui penilaian akhir mereka terhadap satu judul film, melainkan juga proses ke arah tersebut. Ya, Ebert dan Roeper tidak langsung bersepakat mengajukan penilaian, melainkan mendahuluinya dengan debat dan adu argumen yang sangat seru, sebelum pada akhirnya sama-sama sampai pada kesimpulan yang sama.
Perdebatan yang pedas dan kadang menyertakan ejekan-ejekan sarkastis inilah yang membuat Ebert & Roeper begitu digilai pemirsanya. Hebatnya, meski di layar kaca keduanya saling adu mulut dengan keras, di luar studio mereka tetap menjadi rekanan dan sahabat yang sangat dekat dan selalu tampil bareng dalam berbagai kesempatan.
Kini, acara tersebut tak hanya mampu meraih popularitas tinggi namun juga pengaruh besar secara “politis” dalam industri perfilman Hollywood. Ketika sebuah judul film menghasilkan ulasan positif dari mereka dalam acara screening (pemutaran khusus untuk konsumsi pers dan kritikus film), pihak studio selalu memajang kutipan kata-kata Ebert dan Roeper terhadap film tersebut di poster-poster, iklan media, dan trailer-nya.
Dan sebagaimana yang sudah terbukti selama kira-kira satu dasawarsa terakhir, pujian dari kedua kritikus kenamaan itu memang selalu berbanding lurus dengan angka penjualan tiket. Penonton berbondong-bondong menyaksikan sebuah film yang mendapat “thumbs up”, entah karena merasa mendapatkan “restu” untuk menonton entah itu hanya karena penasaran untuk membuktikan kebenaran analisis Ebert dan Roeper.
Tahun 2005 kemarin, acara Ebert & Roeper merayakan hari jadinya yang ke-30. Embrio programa tersebut dimulai pada tahun 1975 oleh Ebert bersama partner lawasnya, almarhum Gene Siskel. Sebagai sesama kritikus film, waktu itu mereka membawakan acara ulasan film Coming Soon to a Theater Near You buatan stasiun TV pendidikan PBS yang diproduksi oleh stasiun TV lokal Chicago, WTTW.
Tahun 1978, nama acara itu diubah menjadi Sneak Previews dan dengan cepat mampu mengumpulkan pemirsa setia di lingkup nasional. Tiga tahun kemudian, Ebert dan Siskel cabut karena masalah ketidaksepakatan kontrak dengan PBS dan membentuk perusahaan sendiri bernama Tribune Entertainment. Dengan bendera baru, mereka memproduksi acara ulasan film yang diberi titel At the Movies.
Eksperimen ini tak berlangsung lama karena pada tahun 1986 mereka sepakat untuk bergabung dengan Buena Vista Entertainment, divisi televisi dari studio besar Disney. Di situ, mereka membintangi programa baru lagi yang bernama Ebert & Siskel and the Movies.
Kebersamaan Ebert dan Siskel berlangsung selama 13 tahun sampai Siskel mulai terserang tumor otak tahun 1998 dan harus menjalani operasi. Meski demikian, the show must go on dengan Siskel memberikan ulasan dan argumen lewat pesawat telepon dari rumah sakit.
Episode tertanggal 23 Januari 1999 menjadi saat terakhir Ebert dan Siskel masih bersama-sama mengkritik film. Saat itu film-film yang mereka ulas adalah At First Sight, Another Day in Paradise, Hi-Lo Country, Playing by Heart, dan The Theory of Flight. Awal Februari 1999, Siskel memutuskan untuk cabut secara permanen dan tiga pekan kemudian meninggal karena komplikasi parah.
Pascakepergian Siskel, nama acara diganti menjadi Roger Ebert & The Movies. Sepanjang musim 1999, Ebert memandu acara seorang diri dan hanya didampingi para kritikus tamu. Memasuki musim 2000, salah seorang kritikus tamu tersebut, Richard Roeper, akhirnya terpilih sebagai mitra tetap untuk menggantikan posisi Gene Siskel.
Dalam musim terbaru saat ini, salah satu segmen paling menarik dari Ebert & Roeper adalah The Wagging Finger of Shame. Dalam segmen ini, mereka mengolok-olok beberapa judul film yang tidak diputar dalam screening untuk para kritikus. Ini terjadi biasanya karena pihak studio sejak awal sudah menyadari film mereka benar-benar berkualitas rendah sehingga menyajikan screening untuk kolumnis sama saja dengan tindakan bunuh diri!
Film-film yang mendapat “kehormatan” untuk dipajang dalam segmen The Wagging Finger of Shame beberapa di antaranya adalah The Amityville Horror, The Fog, In the Mix, Aeon Flux, Underworld: Evolution, dan Date Movie. Lucunya, terlepas dari label “thumbs down” yang disematkan Ebert dan Roeper, judul-judul ini sama-sama sukses mengeruk dolar dalam daftar box office.
Secara umum, kritik yang disajikan keduanya (dan para kritikus lain) memang boleh dibilang tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap angka penjualan tiket semua film. Sebuah film yang dicerca para kritikus tetap dapat mengumpulkan penonton dalam jumlah besar, karena sebagian besar penonton memang lebih gampang terpikat dengan sekuen laga, pamor bintang, animasi komputer, serta efek visual yang canggih.
Dan fenomena ini dibenarkan oleh Ebert sendiri. “Kata-kata kritikus tak punya arti untuk film-film berbujet besar yang didukung dana promosi melimpah,” katanya. “Tugas kami sebetulnya hanyalah menunjukkan pada penonton, film-film kecil berbiaya murah serta film-film asing berkualitas yang selama ini tak pernah Anda dengar dan lihat melalui media.”
Namun pada gilirannya, sebuah acara TV seunik Ebert & Roeper tetap akan membantu meningkatkan apresiasi penonton pada film. Penonton bakal menjadi sedikit lebih terpelajar untuk melek terhadap batasan mana film bagus dan mana yang bukan, serta tak hanya sekadar melahap mentah-mentah apa yang tersaji di gedung bioskop.
Kita jelas-jelas amat memerlukan programa seperti ini. Sejauh ini, acara-acara sinema di TV kita seperti Cinema Cinema (RCTI), Layar Lebar (Metro TV), atau Nomat (Trans TV) hanya mengumbar informasi mentah belaka tanpa ada satupun unsur pembelajaran untuk membuat kita paham mengapa Crash menang Oscar dan mengapa Stealth serta Fantastic 4 masuk nominasi saja tidak.

Ladang Gagasan Reality Show

Dalam beberapa tahun terakhir, televisi kita kebanjiran satu jenis programa yang betul-betul baru dan original, yaitu reality show. Sejak The Bachelorette, Survivor, Joe Millionaire, dan Fear Factor melejit, pertunjukan-pertunjukan sejenis dengan cepat tumbuh bermekaran bak cendawan di musim hujan menghiasi jam-jam tontonan prime time kita.
Reality show atau tontonan kenyataan pada dasarnya adalah sebuah pertunjukan mirip film atau sinetron yang didasarkan atas kenyataan baik aktual maupun faktual. Daya tarik programa jenis ini ada dua, yaitu plot yang menyerupai sebuah cerita dan kenyataan faktual itu tadi.
Semua judul reality show memiliki proporsi cerita Struktur Tiga Babak yang dianut film-film komersial Hollywood. Di dalamnya terdapat pengenalan, klimaks, dan kemudian solusi.
Sajian plot cerita yang dramatis, lucu, dan kadang-kadang kontroversial inilah yang membuat penonton dengan cepat terpikat. Lebih terpesona lagi karena apa yang dihadirkan di layar gelas bukan kisah fiksi atau yang “diangkat dari kisah nyata”, melainkan fakta nyata yang benar-benar terjadi.
Dan sebagaimana kebiasaan para produser televisi kita selama ini, tayangan-tayangan sukses dari luar negeri yang juga meraih angka rating tinggi di sini dengan cepat diindonesiakan. Maka kemudian muncullah Joe Millionaire Indonesia, Fear Factor Indonesia, The Apprentice Indonesia, serta Indonesian Idol.
Pertanyaan yang lantas mengemuka adalah, cukup puaskah kita selamanya hanya sekadar menjadi pengekor setia? Tidakkah kita berkeinginan suatu saat sebuah reality show yang asli produksi lokal gantian diadaptasi oleh stasiun-stasiun televisi Asia Tenggara, Asia, atau bahkan Amerika?
Masalahnya, para kreator televisi kita sangat pasif dan hanya sekadar menunggu bola. Apa-apa dari luar yang tahu-tahu buming, itulah yang bakalan diolah dengan muatan lokal. Sama sekali belum tampak adanya suatu kemauan untuk berkreasi dan berinovasi mencari gagasan-gagasan baru guna memunculkan tema-tema segar reality show yang sama sekali belum pernah diproduksi di belahan dunia manapun.
Ini jelas amat kontras dengan kegetolan rekan-rekan sejawat mereka di Amerika Serikat yang tak pernah henti untuk terus menggali ide-ide terliar mereka. Tak heran dari waktu ke waktu, pencinta layar gelas di Negara Paman Sam dimanjakan oleh kemunculan berbagai judul reality show tergres dengan tema dan topik-topik yang juga kian aneh.
Salah satu judul reality show paling anyar yang kini tengah menjadi tontonan paling menarik di AS adalah MythBusters. Programa 60 menit yang tayang di Discovery Channel tiap Rabu pukul 21 waktu setempat ini menguak kenyataan di balik berbagai mitos, legenda, dan takhayul sains yang selama ini beredar di seputar kita.
Beberapa hal yang hendak dikuak MythBusters di antaranya adalah seberapa besar kemungkinan secara ilmiah seseorang dapat menemukan jarum dalam tumpukan jerami dan apakah manusia memang bisa terbang ke angkasa memakai kursi yang pada bagian belakangnya dipasangi roket.
Duet pemandu acara Adam Savage dan Jamie Hyneman mencoba membuktikan secara ilmiah semua mitos tersebut. Mereka mencari mana yang betul-betul terbukti dan mana yang ternyata cuma sekadar omong kosong belaka. Sejak tayang perdana 23 Januari 2003 lalu, MythBusters melesat menjadi programa andalan Discovery Channel yang meraup angka rating tertinggi.
Episode terbaru, yaitu episode ke-58 yang ditayangkan 1 Februari 2006 lalu, bertutur tentang mitos gas helium. Adam dan Jamie melakukan eksperimen untuk membuktikan apakah bola berisi helium memang benar-benar dapat terbang lebih lama dibanding bola yang diisi udara biasa. Dalam segmen lain, keduanya mencari tahu apakah gigi manusia betul-betul cukup kuat untuk menahan laju peluru senjata api.
Tayangan reality show lain yang memiliki kandungan nilai pendidikan, hiburan, dan humor setara dengan MythBusters adalah Weird US. Di sini, duo host Mark Sceurman dan Mark Morgan bertualang untuk mengumpulkan berbagai dongeng, legenda, cerita rakyat, dan takhayul-takhayul aneh dari berbagai tempat di AS dan memilah mana yang merupakan fakta dan sejarah serta mana yang bohong-bohongan.
Weird US mengudara melalui layar History Channel sejak 1 Agustus 2005 dan hingga kini masih terus mengudara dengan durasi 30 menit tiap episode. Acara ini diawali dari sebuah majalah enam bulanan yang bernama Weird NJ. Dalam Weird NJ, Sceurman dan Morgan mengungkap dongengan-dongengan aneh yang berkembang di New Jersey.
Begitu Weird NJ meroket, mereka tak segan-segan untuk merilis edisi nasionalnya ke dalam Weird US. Dan melihat potensi serta daya tariknya yang memang luar biasa besar, History Channel pun mendahului stasiun-stasiun lain untuk memproduksi majalah tersebut menjadi sebuah reality show berjudul sama.
Dikaitkan dengan misinya sebagai stasiun TV yang khusus menayangkan programa-programa dokumenter sejarah, History Channel membuat Weird US lebih beraroma sejarah daripada hanya sekadar membongkar-bongkar takhayul mirip embrionya, Weird NJ. Tagline tayangan ini pun menjadi “History is full of weirdos” atau “Sejarah penuh dengan hal-hal aneh”.
Dengan tagline demikian, tak heran dalam waktu singkat Weird US sanggup menarik perhatian pemirsa untuk mengunjungi kanal History Channel. Sebagian besar pemirsa berpendapat, serial ini membuka mata mereka pada hal-hal unik yang ada di Amerika dan pada gilirannya membuat rasa cinta mereka pada tanah air kian mengental.
Satu lagi judul reality show dengan tema segar yang kini tengah mendapat perhatian luas di AS adalah American Chopper. Tayang di Discovery Channel tiap Senin pukul 21 sejak 1 Maret 2003, American Chopper merupakan sebuah “sinetron kenyataan” tentang sebuah bengkel pembuat sepeda motor pesanan di New York yang bernama Orange County Chopper (OCC).
Dua tokoh utama serial ini adalah pemilik OCC Paul Teutul dan puteranya, Paul Jr. Tiap episode berkisah tentang kesibukan pasangan ayah dan anak tersebut memenuhi deadline pembuatan sebuah sepeda motor berdasarkan pesanan klien dengan desain yang senantiasa teramat sangat personal.
Episode ke-71, FANtasy Bike yang mengudara 30 Januari 2006 lalu, menuturkan pesanan sepeda motor khusus dari Bryan King, seorang sopir truk di California. Bryan adalah penderita cacat yang sehari-hari harus memakai kursi roda. Jadi tantangan terbesar yang harus dihadapi Paul dan Paul Jr adalah bagaimana membuat sebuah sepeda motor artistik yang juga sekaligus mampu mengakomodasi kecacatan Bryan.
Baik MythBusters, Weird US, maupun American Chopper adalah sama-sama acara reality show baru dengan topik yang sangat fresh dan original. Ketiganya memikat karena menghadirkan tema-tema yang belum pernah diangkat sebelumnya. Tak hanya itu, serial-serial tersebut sangat menghibur, dramatis, lucu, dan sekaligus mendidik serta memperluas wawasan para pemirsanya.
Kembali pada tayangan-tayangan serupa di dalam negeri, unsur inovasi dan kreativitas itulah yang belum pernah muncul di sini. Ladang gagasan masih teramat luas untuk diolah dan digali. Namun karena produser, kreator, dan stasiun TV kita hanya mau main aman, mereka pun menolak untuk berisiko mencari tema sendiri dan lebih suka duduk ongkang-ongkang menunggu durian jatuh dari rumah sebelah.